Paris cukup mengesankan dalam hal harga makanan dibandingkan di Roma ataupun di kota-kota besar Indonesia. Dimanapun kita berada di Paris, mau di tempat yang jauh dari keramaian, di tempat wisata, di stasiun Metro, di Museum, atau dimanapun, harga-harga makanan dan jajanan tidak berbeda cukup mencolok. Sehingga kita tidak perlu ragu untuk membeli makanan dan jajan dimanapun.
Agaknya Roma mirip dengan Jakarta, Bandung ataupun kota lain di Indonesia. Harga makanan atau jajanan mengikuti strategis atau tidaknya tempat penjualan makanan atau jajanan tersebut berada. Semakin strategis, maka semakin mahal pula harganya. Jadi kami tidak sembarangan beli makanan di Roma setelah melihat-lihat harga makanan di Bandara, stasiun Termini, daerah sekitar Vatikan, Colosseum, dll. Lagipula kebutuhan makan kami normal-normal saja, mau burger pun “hayuk ajah”, asalkan perut cukup terisi dan bisa buat jalan kaki cukup jauh. Jadi ga aneh-aneh milih makannya, ga kayak Bondan Winarno waktu ke Venezia hehehe.
Tempat-tempat wisata di Roma yang kami kunjungi adalah standar tujuan turis dan sekilas saja diceritakan karena pasti banyak sekali cerita-cerita semacam ini di internet.
Basilica di San Pietro
Tujuan pertama kami begitu sampai di Roma adalah Basilica di San Pietro di Vatican. Setelah check-in ke Hotel Donatello, kami mampir dulu di mini market dekat hotel beli minuman Nestea. Kayaknya minuman ini belum muncul di Indonesia, kalah saingan kali sama Teh Botol Sosro. Segera saja kami berangkat naik Met.Ro dari Manzoni dan turun di stasiun Ottaviano. Vatikan cukup unik karena statusnya adalah negara. Tidak seperti layaknya negara lain yang memerlukan pengecekan paspor dan visa, Vatikan di kota Roma seperti layaknya kecamatan saja. Sehabis dari Basilica di San Pietro kami selintas melihat es krim yang logo mereknya tidak asing di Indonesia, tetapi namanya sama sekali berbeda. Saya jadi mengerti, rupanya disesuaikan dengan lidah orang Italia tho rupanya. Dibawah logo merek yang ukurannya kecil dan posisi paling atas itu tertera Algida. Bisa tebak merek apa ini kalo di Indonesia?
Piazza di Spagna
Ketika kami sampai di Piazza di Spagna (artinya kurang lebih Spanish Steps), senja sudah tiba dan sudah saatnya mengisi perut kami yang keroncongan. Kami berjalan-jalan melewati jalan Condotti yang ramainya bukan main oleh ratusan turis. Mirip dengan Champs-Elysee, ini adalah jalanan yang penuh dengan toko-toko fashion yang terkenal didunia. Tentu saja bukan pakaian, parfum atau baju yang kami cari, melainkan tempat mengisi perut. Akhirnya setelah berjalan cukup jauh kami memilih sebuah restoran kecil yang cukup apik. Istri saya berpendapat “karena kita ada di Italia yang negerinya Pizza, sudah sepantasnya kita mencicipi pizza di Italia”. Ide yang lumayan bagus, kenapa tidak? Kami memesan dua pizza ukuran personal dan minuman Nestea rasa jeruk nipis. Istri memesan tiramisu sebagai hidangan penutup. Rasa pizza-nya? Biasa saja ah, malah menurut saya enakan Pizza Hut di Indonesia hahaha! Dasar lidah ndeso!
Colosseum
PKL? Ya, PKL alias pedagang kaki lima juga banyak di Roma seperti di Jakarta. Bedanya mereka lebih rapi dan lebih modal karena mereka memakai mobil. Selepas capek naik turun dan keliling-keliling reruntuhan Colosseum, kami memutuskan jajan sedikit di PKL ini. Beli pizza dan es krim lah disini buat nambah ganjal perut karena sarapan yang kami dapatkan di hotel hanya croissant dan teh manis. Beli apa ya? Kami harus agak berhati-hati dengan isi roti lapis. Di Prancis dan Italia sepertinya daging babi sangat mudah didapatkan dan sudah sangat biasa dijual dengan nama “roti lapis isi daging”. Cukup menipu ya? Mungkin karena harga daging babi lebih murah ya dibandingkan harga daging sapi dan daging ayam. Kami memilih es krim dan roti lapis isi daging sapi. Perhatikan deh ramenya barang dagangan si PKL, mulai dari pizza, roti lapis, bir, minuman soda, kripik kentang, sampai ke spanduk dan tulisan-tulisan di mobil PKL.
Fontana di Trevi – Pantheon – Bandara Leonardo da Vinci
Fontana di Trevi ini adalah air mancur yang terkenal di Roma, usianya tidak terlalu tua dibandingkan situs-situs sejarah lain di Roma, sekitar “300 tahun saja”. APA?! Bangunan usia 100 tahun di tengah-tengah rimba perkotaan besar seperti Jakarta dan Bandung adalah luar biasa kalau masih bisa bertahan, apalagi sampai 300 tahun! Benar-benar luar biasa deh semangat menjaga warisan budaya orang Eropa.
Pantheon dulunya adalah kuil pemujaan dewa-dewi orang Romawi yang kemudian berubah fungsi menjadi gereja. Bentuknya unik, mempunyai kubah raksasa yang berlubang di puncak kubahnya. Menurut info sana-sini, dari kubah ini kita bisa melihat posisi bintang-bintang di langit. Posisi bintang ini akan menentukan kapan mulai musim tanam, kapan musim hujan akan datang.
Capek keliling-keliling dan pengen camilan kecil, kami membeli kenari panggang ke bapak-bapak yang membakar kenarinya di tepi jalan dengan payung yang meneduhinya. Bentuk kenari bakar ini mirip kacang tolo, tapi isinya lunak. Hmmm… Enak juga rasanya, seperti kacang raksasa! Jadi teringat tokoh Kiki dan Koko di Donal Bebek hihihi.
Tak terasa waktu kami di Roma sudah hampir berakhir dan kami harus balik ke Paris kalau tak mau ketinggalan pesawat. Kami pun segera berkemas dan berangkat ke Bandara Leonardo da Vinci dengan menumpang kereta khusus dari stasiun Termini langsung ke Bandara Leonardo da Vinci. Berhubung hari sudah malam dan kami memilih jalan praktis, kami memilih makan di restoran Bandara. Lumayan, kami bisa memilih makanan yang bisa mengenyangkan seperti daging ayam yang dipotong besar-besar, kentang dan sepiring pasta! Nyem nyem nyem…

Dari tadi kok ga ada penjelasan harga-harganya sih? Hehehe, mohon maaf pembaca, bon-bon makanannya sudah keburu dibuang, jadi kelupaan harga-harganya.
Yuk kapan-kapan wisata kuliner di Italia! Buon appetito!